Teknologi, pada dasarnya adalah pergeseran penggunaan. Teknologi email menggeser surat, teknologi ponsel menggeser telepon rumah, teknologi e-book menggeser kertas dan sebagainya. Dalam perkembangan selanjutnya, selain menggeser, juga mengganti, meskipun tidak sepenuhnya. Surat, misalnya, masih tetap digunakan, meskipun sudah ada email. Telepon rumah juga masih belum tergantikan sebagai syarat apply kartu kredit salah satu bank meskipun sudah ada ponsel. Dan toko buku Gramedia, tetap masih menjalankan bisnisnya dengan baik meskipun di internet bertebaran buku-buku elektronik. Itulah mengapa, kata menggeser lebih tepat dari pada mengganti.
Buku digital, e-book, dengan fungsi yang sama dengan buku, juga menggeser keberadaan buku biasa. Untuk materi-materi tertentu, saya lebih suka membaca ebook dari pada buku biasa. Tapi untuk materi yang lain, ternyata saya lebih memilih membeli untuk membaca, meskipun di komputer ada ebook dengan isi yang sama.
Pilihan buku pun berkembang, dari buku untuk dibaca di rumah, buku untuk dibaca saat perjalanan, buku untuk dibaca di kursi, bahkan buku untuk dibaca saat menjelang tidur di tempat tidur. Kenapa harus dibeda-bedakan? Entahlah, klasifikasi itu muncul begitu saja tanpa sadar dan tanpa direncanakan. Semua berdasarkan pengalaman. Misalnya, membaca buku kecil lebih nyaman dalam perjalanan. Contohnya beberapa bukunya Arswendo, seperti Canting, Dua Ibu atau Blakanis. Ada juga bukunya Mario Puzo, The Sicilian dan Omerta. Membaca buku-buku itu dalam perjalanan jelas lebih nyaman dari pada membaca buku Da Vinci Code-nya Dan Brown, atau buku Harry Potter-nya JK Rowling. Tentunya, kita juga tidak mungkin nyaman kan membaca buku Senopati Pamungkas-nya Arswendo dalam perjalanan? Bahkan buku Gajah Mada-nya Langit Kresna pun rasanya kurang nyaman dalam genggaman saat perjalanan. Atau buku Para Priyayi-nya Umar Kayam pun rasanya tidak nyaman untuk ditenteng-tenteng saat perjalanan.
Beda perjalanan juga beda saat sore-sore sambil minum kopi di emperan rumah. Buku yang tadi saya sebutkan malah kurang nyaman untuk dibaca. Terlalu kecil dan sempit. Saat-saat seperti ini justru lebih nyaman membaca buku-buku yang lebar, dan lebih tebal. Angel and Demon-nya Dan Brown misalnya. Atau Buku Negeri 5 Menara-nya A. Fuadi. Buku yang lebih tebal, seperti Senopati Pamungkas, atau Rara Mendut-nya Romo Mangun lebih nyaman dibaca di tempat tidur, sambil tidur-tiduran. Jadi kalau ngantuk, sekalian bisa dipakai untuk bantal hehehe…
Bagaimana dengan ebook? Entahlah. Meskipun lebih murah, bahkan gratis, tapi membaca ebook rasanya tidak nyaman. Untuk materi-materi yang tidak terlalu panjang, masih nyaman, tapi untuk membaca jangka panjang, terlalu melelahkan untuk mata. Ini adalah salah satu alasan mengapa saya masih sering membeli buku, meskipun punya ebook yang isinya sama persis. Lagian kesenangan mengumpulkan buku, rasanya mirip dengan mengumpulkan koleksi perangko jaman dulu. Salah satu rekan kantor bahkan pernah mengatakan, bahwa buku itu seperti harta karun, selalu menyenangkan untuk dikumpulkan. Jadi meskipun teknologi digital sudah berkembang, tetap belum akan menggantikan buku dalam arti yang sebenarnya, yang terbuat dari kertas, dan dijilid dalam ragam bentuk dan ukuran.
Posted by guskar on October 6, 2009 at 1:40 pm
selamat datang denmas… bbrp jam lalu sempat tak rasani di nenyok.com. selama berhiatus sdh berapa buku dibaca? Dan Brown jg keluarkan buku baru loh.. tp mesti inden dulu di gramedia..
baca e-book bagi saya nggak ada greget dan emosinya.. sangat jauh berbeda dng yg bentuk cetakan. e-book sepertinya nggak akan mampu secara maksimal menggeser fungsi buku…
oh ya, denmas.. ini lagi jeda berhiatus.. atau sdh bergabung dengan mas nardi dan yu darmi kembali?
Posted by nakjaDimande on October 6, 2009 at 9:06 pm
tak ada yang benar-benar digantikan denmas.. bahkan ketidakhadiran denmas tak mampu bundo gantikan dengan yang lain **rayuan bundo agar mas ndoro muncul lagi
Posted by bundadontworry on October 7, 2009 at 7:05 am
banyak sekali koleksi buku2 DenMas ya , dan bagus2 semua, jadi iri, ingin ikut memiliki.
kalau iri yg seperti ini, boleh kan ya DenMas .
Salam.
Posted by nenyok on October 7, 2009 at 9:34 am
Salam
*pengumuman mode*
Wah nyaris idem, klo boleh milih, lebih berasa be-ruh baca buku cetak drpda e-book, well selama hiatus kemarin cuma ngabisin satu buku ringan sambil recovery abis sakit
welkambek egen Mas Denmas, eniwei tak ada yang berul-betul bisa menggantikan bahkan jika kekuranganya pun tak terhingga *apa coba*
Semangat!!!
Posted by annas on October 7, 2009 at 7:12 pm
yah apapun jenis produk kemajuan tekhnologi, benteng agama harus tetep terdepan untuk memfilter arus kemajuan zaman yang semakin pesat dan menggilas kita
Posted by ANDY on October 7, 2009 at 8:17 pm
Biar bagaimanapun agama tetap dibutuhkan untuk membentengi akhlak kita…..kunjungi blog saya ya
Posted by catatan febri on October 7, 2009 at 9:52 pm
terkadang sangat sulit untuk membedakan makna menggeser dan mengganti
Posted by catatan febri on October 7, 2009 at 9:54 pm
kunjungi link ini ya
http://catatanharianfebri.blogspot.com/2009/10/twivert-i-dapatkan-uang-ketika-tweet.html
Posted by vyanrh on October 9, 2009 at 9:28 pm
Untuk membaca memang lebih nyaman buku cetakan, karena bila melalui display elektronik ada “flicker” yang membuat mata cepat lelah.. dan nanti klo buku cetak tidak ada “tergeser” oleh “e-book” maka DenMas, GusKar, Bundo dan lainnya “tergeser” sebutannya jadi “KUTU E-BOOK” hua ha haha..
Sugeng rawuh mas Ndoro…
Posted by musafir on October 9, 2009 at 10:42 pm
Kayaknya selera bacaannya sama nih.
Salam..
Posted by islamiccounseling on October 9, 2009 at 11:29 pm
makanya jadikan agama the first
Posted by morishige on October 10, 2009 at 9:35 am
pernah dulu saya nyoba bawa dua buku dalam perjalanan: “Gege Mencari Cinta” Adhitya Mulya dan “Salju Kilimanjaro” Ernest Hemingway.
Gege Mencari Cinta ludes dalam sekejap. Salju Kilimanjaro sampe perjalanan berakhir (sampe pulang) cuma habis setengah bab. hehehe…
saya juga lebih milih Buku daripada ebook. Senang aja rasanya membolak balik halaman daripada klak klik mouse. lebih “membuku”…
Posted by tedi on October 10, 2009 at 8:46 pm
welkom bek mas ndoro…
Posted by musziandi on October 10, 2009 at 9:19 pm
ya sebenarnya tidak menggeser..
tapi mengganti kegunaannya dalam suatu situasi..
salam..
Posted by tata on October 10, 2009 at 10:58 pm
kok saiki dadi jareang nulis to Suf..
Posted by tata on October 10, 2009 at 10:59 pm
wis suwe ranulis yo suf..
Posted by arkasala on October 10, 2009 at 11:18 pm
Suwe ora jamu Mas ….
Giliran datang langsung menyebarkan virus membaca. Sip.
Saya hampir tiap minggu selalu mencari buku. Repotnya tidak bisa tidur kalo tidak dibarengi buku, jadi nurun ke anak saya, tidur harus sambil mendekap majalah kereta api atau bukunya dinosaurus.
Saya sepakat beberapa tidak bisa tergantikan. Saya tetap ke Gramedia juga walau beberapa info bisa klak klik. Saya pikir pengamatan DenMas sangat tepat dan saya setuju he he. trims.
Salam
Posted by SanG BaYAnG on October 11, 2009 at 6:20 pm
Setubuh..
Jelas lebih nyaman membaca buku.. Om..
Selain waktu yg tak terbatas..,ane jua terlanjur gak bisa jauh2 ma ilmu keling je..
Keling..(nek nyekel eling..)..ckxkxkx..
Posted by pakacil on October 11, 2009 at 6:26 pm
untuk buku sepertinya sama, lebih enak cetakannya
jangankan e-book mas den, arsip-arsip biasa macam aturan yang relatif pendek pun saya lebih suka baca yang hard copy, kalaupun dapat download, yaaa langsung di print. biar bacanya berasa enak.
Posted by abifasya on October 11, 2009 at 11:14 pm
Shilaturrahmi ba’da idul fitri neh sahabatku
Apa Kabar ?
Dah Lama aku tak Berkunjung
Semoga Allah senantiasa melindungi Kita
Salaaaaaaaaaaaaaaam
Posted by Nisa on October 18, 2009 at 3:05 pm
yang bakal menggeser fesbuk apa ya
gimana kabar mas ndoro dan yu darmi?