Canting Saja Tidak Cukup

canting arswendo bukuNdalem Ngabean Sestrokusuman tampak sunyi, sewaktu matahari menumpahkan sisa-sisa suryanya yang kuning sore lewat daun-daun pohon sawo kecik. Ndalem Ngabean Sestrokusuman, sebutan untuk rumah luas yang dibentengi tembok tebal kediaman Raden Ngabehi Sestrokusuman, tidak biasanya sepi seperti ini. Tidak pernah halaman samping pendapa yang begitu luas sunyi dari anak-anak kecil bermain atau bunyi sapu lidi membersihkan. Tak pernah bagian gandhok, disamping ruang utama yang membujur ke belakang jauh sekali, begitu kosong dari tarikan nafas. Di gandhok itu, biasanya ada 112 buruh batik, sepuluh di antaranya tukang cap, yang bekerja sejak pagi hari sampai sore hari. Diseling istirahat yang tak lama, lalu dilanjutkan sekitar separonya yang bekerja lembur.

Novel ini menjawa dengan sendirinya, tanpa harus memaksakan settingnya. Pohon sawo kecik, Ndalem Ngabean Sestrokusuman, gandhok, pendapa, batik. Baru paragraph pertama, dan Arswendo sudah memberi pesan, bahwa dia akan bercerita sesuatu tentang sebuah keluarga dengan tradisi Jawa yang kuat. Mengalir begitu saja, apa adanya.

Perhatikan cuplikan tentang pasar Klewer berikut ini, tempat Bu Bei berjualan.

Pasar

Pasar adalah dunia wanita yang sesungguhnya. Dunia yang demikian jauh berbeda dari suasana rumah. Bu Bei berubah menjadi direktur, manajer, pelaksana yang sigap. Sejak memutuskan siapa yang menarik becak, kuli mana yang tak disukai, sampai dengan memilih Yu Tun dan Yu Mi. kedaunya masih gadis, sedang tumbuh, bisa tersenyum dan berhitung, dan tak memberengut kalau digoda. Namun, syarat yang paling penting, pembantu di pasar tak ubahnya sekretaris. Makin kuat kemampuannya untuk menyimpan rahasia, makin panjang usia kerjanya. Makin menunjukkan kekuatan spons yang menyerap liku-liku pergunjungan yang ada, makin kuat pula kedudukannya.

Tokoh-tokohnya? Perhatikan nama-nama tokoh dalam cuplikan dialog yang merangkum nama-nama tokohnya,

“Saya tahu. Soal Wahyu, kan? Kamu ini lebih mementingkan Wahyu daripada adik-adiknya. Ada Lintang, ada Ismaya, ada Bayu, ada Wening, koq hanya Wahyu yang dipikirkan.”

Arswendo juga tanpa beban menciptakan tokoh pembantu seperti Mijin. Diceritakan dengan tanpa tedeng aling-aling, sederhana, apa adanya, lugas.

Mijin kawin dengan salah seorang pembatik ketika wahyu masuk sekolah. Menjelang kawin, Mijin baru disunatkan. Selama ini ternyata terlupakan. Tak ada yang memikirkan Mijin – tak ada juga ketika orangtuanya masih hidup. Sekali lagi Mijin menjadi bahan guyonan yang tak ada habisnya ketika disunat.

Lalu menyambung dengan komentar Mijin tentang sunatnya,

“Sakit sekali kalau bangun pagi. Pokoknya aku tak mau lagi sunat lagi seumur hidup.”

Ada potongan cerita menarik, ketika Ni baru pulang dari Semarang, lalu naik becak dari terminal menuju rumah. Berikut cuplikan dialognya,

“Ke Njeron Benteng, pak.”

Mangga…”

“Berapa, Pak?”

“Sudah berapa saja, mangga…”

“Lima ratus?”

Penarik becak itu tersenyum. Ramah dan tetap menghormat.

Ni tak ingin bertengkar dengan penarik becak nantinya. Makanya ia memastikan ongkosnya.

“Enam ratus… mangga…”

“Kalau mau lima ratus, kalau tidak ya sudah.”

Penarik becak itu tersenyum lagi.

“Kalau tega memberi lima ratus… ya mangga…”

Ni mati kutu.

Ketika Arswendo menyisipkan cerita tentang kuliner tradisional Jawa masa lampau karena kematian Bu Bei, ini seperti nostalgia, batin saya.

Mbok Tuwuh, yang seakan telah kering cairan tubuhnya, menangis ketika menyiapkan sega asahan, nasi putih biasa. Dengan lauk-pauk sambal goreng, bakmi goreng, bihun goreng, semur buncis, irisan telur dadar, perkedel, rempeyek, kerupuk – masing-masing dalam sudi, tempat yang dibuat dari daun pusang setengah lingkaran. Juga ketika menyiapkan sega wuduk, nasi putih gurih dengan lauk-pauk yang sama, ditambah dengan ingkung, ayam utuh yang dimasak santan.

Novel ini bercerita tentang Ni, seorang sarjana farmasi, calon pengantin, putri Ngabean, yang mencoba menekuni usaha batik orang tuanya. Dalam perjalanannya, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dia harus berhadapan dengan Pak Bei, bapaknya, bangsawan berhidung mancung yang perkasa; Bu Bei, bekas buruh batik yang menjadi ibunya; serta kakak-kakaknya yang sukses. Ni, yang bertahan dengan batik canting, harus berhadapan dengan batik printing. Setiap nyawa pola, hembusan nafas pada canting, terbanting begitu saja dengan pergeseran proses batik.

Pada akhirnya, memang harus ada kompromi, dengan Himawan, calon suaminya, dengan canting, dengan saudara-saudaranya, dengan buruh-buruhnya, juga  dengan skandal-skandal dalam keluarganya. Semua, diceritakan dengan cara Arswendo :-)

18 Responses to this post.

  1. canting bahasa jawa kan mas, orang jawa ni

    Reply

  2. saya suka cerita tradisi kurtur Jawa ini mas mirip Para Priyayi-nya Umar Khayam ya, makanya inti komen saya : harus baca.
    Trims Mas atas infonya. Salam :)

    Reply

  3. Posted by arkasala on October 23, 2009 at 6:37 am

    Komeng saya selalu kena si Aki. Dimana-mana. Kenapa ya? Padahal saya bilang dulu ke si Aki, saya temennya DenMas mau komen pendek saya : Melihat gayanya yang kuat menceritakan kultur Jawa mirip dengan Para Priyayinya Umar Khayam, maka saya harus baca.
    Maaf Mas gak pake URL komennya, kalo ini pasti gak kena si Akiismet.

    Reply

  4. @kang yayat: denmas memang jagoan bertutur ala umar khayam.. :) belum ada tandingannya..

    @denmas: novel canting ini sepertinya yang dulu pernah dibuat film serinya di tv, dengan pemeran utama mendiang Pak Umar Khayam dan Ria Irawan.. duh jadi penasaran.. makaciy denmas, atas previewnya..

    Reply

  5. jadi kepingin beli novelnya ni, makasih infonya

    Reply

  6. denmas..novel2nya arswendo masih teronggok di rak buku tuh… saya kebalikannya denmas… lg rajin ngeblog (sementara) lupa membaca… :)
    terusken denmas.. selesai satu buku bikin previewnya ya..

    Reply

    • Posted by arkasala(dot)com on October 25, 2009 at 6:22 am

      Gus semoga kelak ketika nulis previewnya lagi tidak menggunakan bahasa HTML, dan tetap seperti ini. :) )

      Reply

  7. karena preview buku ini yg asyik dr DenMas,
    saya yg nggak begitu ngerti dgn yg serba jawa.
    kok malah jadi tertarik dan penasaran pingin membacanya.
    Terima kasih ya DenMas atas preview yg menarik ini.
    Salam.

    Reply

  8. Di sela kesibukan maseh tetap menyempatkan diri untuk membaca bnyk hal..kemudian di posting di sini.. :)

    Semoga makin sukses Pak lek.. :D

    Reply

  9. hmmm, ceritanya tentang budaya membatik ya? hmm, kurang paham saya karena dari aceh, bukan jawa

    Reply

  10. nice info, lestarikan budaya bangsa kita

    Reply

  11. Arswendo, Umar Khayam penulis-penulis hebat… sebentar lagi DenMas dan GusKar juga bakal mengukir prestasi mengikuti jejak mereka..

    Reply

  12. iyo, mas. para penulis itu bisa bercerita dengan luar biasa. padahal bahasanya juga sederhana.
    simpel tapi jero, mas.
    salam..

    Reply

  13. jadi Canting ini diceritakan dari sudut pandang Ni, kah?
    wah, fragmen2 yang diceritakan di atas bikin saya penasaran baca bukunya. :mrgreen:

    Reply

  14. Memang kayane ngono mas, canting saja tidak cukup, akan lebih cukup jika jadi cantik tapi jangan cantangen yakhrrr… :lol:

    Reply

  15. aahh.. aku suka arswendooo… well, sebenernya baru baca beberapa bukunya aja sih. tapi aku suka gaya ceritanya. terakhir baca yg “Kau Memanggilku Malaikat”. Yg “Canting” ini malah belum baca, den…

    *laporan selesai!*

    Reply

Respond to this post