Koran. Saya tidak tahu kapan terakhir membaca koran. Namun, sabtu sore kemarin, seorang teman membawa koran Seputar Indonesia, edisi rabu, 24 maret 2010. Kadaluarsa, batin saya. Lebih-lebih ketika akses berita sudah bisa dibaca dengan perangkat-perangkat mobile. Namun tak urung, koran itu saya baca juga, dibolak balik, lembar demi lembar dan tetap merasa aneh.
Ndilalah, saya termasuk tipe orang yang alergi dengan berita, terutama berita-berita politik. Di reader, saya hanya berlangganan tiga jenis berita, yakni otomotif, olah raga dan teknologi informasi. Karena itulah saya tidak tahu bencana apa yang sedang trend bulan ini, atau bagaimana perkembangan penumpasan ‘teroris’ di Indonesia, atau pejabat yang konangan (ketahuan) ketitipan uang negara. Bahkan ketika ada guyonan yang menyebutkan kata Dulmatin saat meeting di kantor, saya tidak tahu mengapa semua tertawa dan baru tahu dua hari kemudian diberitahu oleh teman yang menjadi ‘pengamat’ televisi.
Ketika terjadi bom di Marriott kurang lebih setahun yang lalu, dan semua media televisi berulang-ulang memberitakan berita yang sama, video yang sama, orang yang sama, topik yang sama, saya merasa biasa-biasa saja. Saya tidak punya alasan untuk merasa khawatir atau takut yang disebabkan oleh ledakan bom tersebut. Saat itu saya di Aceh, dan bom di Jakarta. Saya yakin haqqul yaqin (yakin seyakin-yakinnya) bahwa sehebat apapun bom itu, serpihan terjauhnya tidak akan sampai di Aceh. Saya jamin secara nalar fisika yang masuk akal. Saat itu, saya hanya menulis Tepo Seliro yang Morak-Marik, sebagai bentuk keprihatinan seorang warga negara. Selanjutnya, hidup berjalan normal seperti biasanya, dan memilih untuk menghindari semua berita yang berhubungan dengan bom Marriott. Juga tidak tertarik untuk mengetahui siapa dalang dibalik peristiwa itu.
Ketika ramai-ramainya kasus Century, saya menghapus berita-berita seputar berita ekonomi dan keuangan dari reader. Membaca berita-berita otomotif dan olah raga, yang relatif bersih dari hiruk pikuk pemberitaan lebih menarik bagi saya.
Namun, sore ketika membaca koran tersebut, akhirnya saya membaca juga berita yang akhirnya membawa pada kondisi yang selama ini berusaha saya hindari, yakni syak wasangka, dzon serta prasangka. Berita itu saya baca lagi, berharap ada kata-kata yang lebih menjernihkan supaya dzon tadi bisa berkurang. Saya khawatir prasangka tersebut adalah prasangka yang salah.
Koran hanya tetap koran, berita hanya tetap berita, kabar yang diceritakan oleh orang lain, yang berkemungkinan untuk salah. Berapa persen kebenaran yang dibawa oleh sebuah berita, tidak pernah ada yang tahu. Etika jurnalistik menurut saya hanya sebatas etika dan pastinya ada yang menjalankan, dan ada pula yang tidak. Berita mana yang ditulis dengan etika dan mana yang tidak, saya tidak pernah tahu.
Waba’du. Saat ini, berita dengan segala bentuk dan format media semakin mudah dikonsumsi. Tidak ada yang tahu kebenaran dibaliknya, kecuali Tuhan, pembuat berita, dan pelaku itu sendiri. Tanpa sadar, kita sedang dibentuk menjadi manusia-manusia yang mudah berprasangka, sehingga adakalanya merasa berhak atas stempel kebenaran dan kesalahan setelah mengkonsumsi sebuah berita. Jari telunjuk kita juga sering kali terangkat dan menunjuk sambil berkata seolah-olah mewakili kebenaran, si A begini, si B begitu, si C anu dengan si D dan seterusnya. Padahal kita tidak tahu yang sebenarnya. Wallahu a’lam bishshowab.
Yogyakarta, 27 March 2010 16:46

Kelihatannya lebih nyaman bersikap seperti DenMas
karena jika mengikuti ternyata ibarat bola pingpong yang akhirnya selalu out karena ditembak tanpa arah …
Hanya biar tidak ketinggalan informasi tapi setelah dipikir memiliki dampak yang lumayan …. terutama dari sisi komentar, seakan diri lebih hebat dan lebih jago …
Terima kasih atas artikelnya yang menarik
Btw … kali ini facebook menolong saya untuk berkunjung kemari he he
Orang yang mengikuti berita kok yo di hubungkan dengan masalah prasangka wis jian aneh, bukan berarti orang yang mengikuti berita terutama politik, ekonomi dlsb terutama kasus2 yang sedang hangat seperti saat ini terus ikut2an berprasangka buruk, tp manusia paling tidak sudah di bekali hati dan pikiran untuk mempertimbangkan dan mengolah terhadap apa yg di baca, terhadap apa yg ada di sekelilingnya ga serta merta menerima mentah2. Klo kita menerima mentah2 begitu saja apa gunanya kita mempunyai predikat sebagai manusia.jganlah dikit2 ngomong “mbok jgan berprasangka !”
saya langganan koran hanya utk hari sabtu dan minggu, cari artikel yg ringan interesan di sana. berita2 update biasa saya baca di inet atau nonton tivi.
sesekali beli Majalah Tempo, untuk nostalgia saja. ttp ada rasa beda membaca di media kertas dan media elektronik. sensasi kresek2 kertasnya itu den..
**diriku kmrn krm email, minta alamat den mas
saya sekarang juga malas ngikutin berita, semua udah kayak reality show aja. makanya mending saya baca majalah atau fiksi.. setidaknya nambah kosakata.
Bundo ngga punya tenaga berlebih untuk mengomentari kejadian2 itu, udah keburu capek untuk menelaah kesalahan si A dan si B..
baca dan lihat yang seger2 aja, hehhhee..
**makanya selalu menunggu kehadiran mas ndoro.
Ah … saya tersenyum membaca paparan Den Mas yang satu ini …
Ini kok jadi seperti menelanjangi saya …
heheh …
You Know What …
Saya memang berlangganan koran dirumah … (sebuah koran besar di Ibukota)
tetapi yang saya baca itu justru bagian belakang duluan …
mengapa ???
Sebab berita di halaman belakang itu … sangat inspiratif … sangat memacu semangat … sangat menyentuh …
Berita Halaman belakang itu selalu berisi profil-profil mereka … orang-orang yang berjuang dan bekerja dengan cara mereka sendiri … yang kadang ceritanya sungguh membuat saya geleng-geleng kepala … mereka adalah orang yang luar biasa.
Entah di bidang Budaya, Sosial, Sejarah, Lingkungan Hidup Kemanusiaan maupun Ip-Tek.
Itu jauh lebih menarik ketimbang halaman depan head line yang kadang bikin kecewa, kesal, bingung dan gemas … membuat mood kerja jadi ndak enak saja …
hehehe
Salam saya
(wah panjang juga saya komen …)
I am with U gan, terkadang saya-pun terbawa pada keadaan su’udhon tersebut akibat model pemberitaan yang sengaja diarahkan pada keadaan tsb plus dengan pemberitaan yang gencar. Tetapi, untuk menyingkir dari pemberitaan tsb 100% juga rasanya krang baik. Penonton dan pendengar yang cerdas adalah mereka yang bisa mengolah yang didapat menjadi sesuatu yang bermanfaat, itu kata orang. Jadi, kita sebenarnya diajak berfikir cerdas menyikapai pemberitaan yang ada, entah itu pemberitaan dengan etika jurnalistik atau tidak. Pisss…
kayaknya dah terlalu lelah utk ikut mikirin yg begituan, inginnya berita2 yg segar2 saja, yang membangkitkan semangat, bukan yg bikin geram dan kesal.
salam
Nampaknya orang yang punya blog ini berpendidikan tinggi. Jadi ga berani komen macam2.. Salam kenal aja..
oh ternya….itu toh maksud penulis…..
saat ini beritanya sudah banyak yang rancu oleh wartawannya di perbesarkan…
watch vampire diaries online
harus pinter2 juga memilah-milah berita mana yang benar dan mana yg isu atau fitnah…
Terima kasih atas informasinya, jangan terlalu percaya dengan berita dikoran karena tidak fakta. Langsung saja liyat diTV ONE, beritanya lengkap, aktual dan akurat hehehe kok promosi.
Salam kenal
lama tidak kemariii ^_^
bagaimana kabar yu darmi dan den mas?