Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Buku’ Category

Buku: Lukisan Kaligrafi

lukisan kaligrafi gus mus“Kalau pengajian-pengajian itu jelas pengaruhnya pada jamaah sih tidak masalah. Ini tidak. Pengajian-pengajian yang begitu intens dan begitu tinggi volumenya itu sepertinya hanya masuk kuping kanan dan langsung keliar lagi kuping kiri. Tak membekas. Buktinya mereka yang bakhil ya tetap bakhil; yang hatinya kejam ya tetap kejam; yang suka berkelahi dengan saudaranya ya masih terus berkelahi; yang bebal terhadap penderitaan sesama juga tidak kunjung menjadi peka; yang suka menang-menangan ya tidak insyaf. Pendek kata seolah-olah kita tidak ada korelasi antara pengajian dengan mental mereka yang diberi pengajian.” Cerpen Amplop-amplop Abu-abu (halaman belakang buku).

Saya sudah lupa, kapan persisnya membeli buku ini. Tapi, dari sekian banyak buku yang pernah saya baca, buku ini memberikan kesan yang dalam. Ini buku Gus Mus pertama saya, dan setelah membaca buku ini, sebagaimana buku-buku Pramoedya, saya mulai berburu buku-buku karya Gus Mus yang lain.

Buku ini adalah kumpulan cerpen Gus Mus yang tesebar di beberapa media tanah air dan diterbitkan oleh kompas. Total semua ada 15 cerpen. Dari semua cerpen tersebut, ada empat cerpen yang belum pernah dipublikasikan di media. Berikut ini kelima belas judul cerpen yang ada dalam buku ini:

  1. Gus Jakfar, Kompas, 23 Juni 2002
  2. Gus Muslih, Suara Merdeka, 5 Januari 2003
  3. Amplop-amplop Abu-abu, belum pernah dipublikasikan
  4. Bidadari itu Dibawa Jibril, Media Indonesia, 9 maret 2003
  5. Ning Ummi, belum pernah dipublikasikan
  6. Iseng, belum pernah dipublikasikan
  7. Lebaran Tinggal Satu Hari Lagi, Jawa Pos, 1 Desember 2002
  8. Lukisan Kaligrafi, Kompas, 24 November 2002
  9. Kang Amin, Jawa Pos, 21 Juli 2002
  10. Kang Kasanun, Jawa Pos, 6 Oktober 2002
  11. Ndara Mat Amit, belum pernah dipublikasikan
  12. Mbah Sidiq, Suara Merdeka, 10 November 2002
  13. Mubalig Kondang, Media Indonesia, 27 Oktober 2002
  14. Ngelmu Sigar Raga, Media Indonesia, 6 Juli 2003
  15. Mbok Yem, Jawa Pos, 27 April 2003

Bagi saya, membaca tulisannya Gus Mus adalah pengalaman membaca yang relative baru, terutama cerpen-cerpennya. Gus Mus bercerita dengan sederhana, dan rendah hati, dua hal yang jarang saya temui pada penulis-penulis tanah air. Bisa jadi, kesan ini disebabkan subyektifitas saya, karena saya mengenal Gus Mus sebagai kiai.

Seperti halnya cara bertutur cerita, tokoh-tokoh dalam buku ini juga diceritakan dan diciptakan oleh Gus Mus dengan sederhana, dan rendah hati. Ada Gus Jakfar, yang karena kelebihannya, bisa ma’rifat, tahu sebelum kejadian. Berikut saya cuplikkan dari cerpen yang berjudul Gus Jakfar:

“Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri,” cerita Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu. “Saya sendiri tidak paham apa maksudnya.”

“Kang Kandar kan juga begitu,” timpal Mas Guru Slamet. “Kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, ‘Kang, saya lihat hidung sampeyan koq sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?’ Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal.”

Di cerpen yang berjudul Amplop-amplop Abu-abu, yang menceritakan tentang kehidupan seorang mubalig, ada sebuah cuplikan unik yang, menurut saya, sangat alami nan sederhana:

“Masih kau simpan?” kataku kaget campur gembira. “Jadi semuanya masih utuh? Berarti semuanya ada satu juta rupiah?”

“Ya, masih utuh. Wong aku tidak pernah mengutik-utik uang itu. Rasanya sayang; uangnya masih baru semua, seperti baru dicetak. Aku simpan dibawah pakaian-pakaianku di lemari,” ujar istriku sambil beranjak ke kamarnya, mau mengambil yang yang disimpannya.

Seorang penulis, biasanya akan membawa potongan kisah hidupnya dalam dunia nyata dalam salah satu tulisannya. Dalam cerpen Iseng, misalnya, Gus Mus menyelipkan cerita cinta ketika masih kuliah di Al-Azhar Cairo.

“Kau menyukaiku, ya?” tiba-tiba suaranya yang biasa menyambarku. Ah, bagaimana dia bisa mengucapkan pertanyaan begitu dengan nada yang sama sekali biasa. Luar biasa! Seketika aku kembali gugup. Namun kemudian aku beranikan diri menjawab meski dengan suara parau, “Ya, sejak lama.” Dan hampir aku tidak percaya, dia mengulurkan tangannya yang lembut dan menggenggam tanganku, sementara mata dan bibirnya tersenyum manis sekali. “Terimakasih ya, Mus!” katanya masih dengan nada biasa. Aku memejamkan mata, merasakan kebabahagiaan yang tiada tara.

Waba’du. Ada banyak hikmah yang terselip dalam cerpen-cerpen di buku ini, namun cara bertutur Gus Mus yang sederhana, ditambah humor-humor ala pesantren, membuat hikmah dalam cerpen ini meresap alami tanpa merasa digurui. Wallahu a’lam.

Read Full Post »

Canting Saja Tidak Cukup

canting arswendo bukuNdalem Ngabean Sestrokusuman tampak sunyi, sewaktu matahari menumpahkan sisa-sisa suryanya yang kuning sore lewat daun-daun pohon sawo kecik. Ndalem Ngabean Sestrokusuman, sebutan untuk rumah luas yang dibentengi tembok tebal kediaman Raden Ngabehi Sestrokusuman, tidak biasanya sepi seperti ini. Tidak pernah halaman samping pendapa yang begitu luas sunyi dari anak-anak kecil bermain atau bunyi sapu lidi membersihkan. Tak pernah bagian gandhok, disamping ruang utama yang membujur ke belakang jauh sekali, begitu kosong dari tarikan nafas. Di gandhok itu, biasanya ada 112 buruh batik, sepuluh di antaranya tukang cap, yang bekerja sejak pagi hari sampai sore hari. Diseling istirahat yang tak lama, lalu dilanjutkan sekitar separonya yang bekerja lembur.

Novel ini menjawa dengan sendirinya, tanpa harus memaksakan settingnya. Pohon sawo kecik, Ndalem Ngabean Sestrokusuman, gandhok, pendapa, batik. Baru paragraph pertama, dan Arswendo sudah memberi pesan, bahwa dia akan bercerita sesuatu tentang sebuah keluarga dengan tradisi Jawa yang kuat. Mengalir begitu saja, apa adanya.

Perhatikan cuplikan tentang pasar Klewer berikut ini, tempat Bu Bei berjualan.

Pasar

Pasar adalah dunia wanita yang sesungguhnya. Dunia yang demikian jauh berbeda dari suasana rumah. Bu Bei berubah menjadi direktur, manajer, pelaksana yang sigap. Sejak memutuskan siapa yang menarik becak, kuli mana yang tak disukai, sampai dengan memilih Yu Tun dan Yu Mi. kedaunya masih gadis, sedang tumbuh, bisa tersenyum dan berhitung, dan tak memberengut kalau digoda. Namun, syarat yang paling penting, pembantu di pasar tak ubahnya sekretaris. Makin kuat kemampuannya untuk menyimpan rahasia, makin panjang usia kerjanya. Makin menunjukkan kekuatan spons yang menyerap liku-liku pergunjungan yang ada, makin kuat pula kedudukannya.

Tokoh-tokohnya? Perhatikan nama-nama tokoh dalam cuplikan dialog yang merangkum nama-nama tokohnya,

“Saya tahu. Soal Wahyu, kan? Kamu ini lebih mementingkan Wahyu daripada adik-adiknya. Ada Lintang, ada Ismaya, ada Bayu, ada Wening, koq hanya Wahyu yang dipikirkan.”

Arswendo juga tanpa beban menciptakan tokoh pembantu seperti Mijin. Diceritakan dengan tanpa tedeng aling-aling, sederhana, apa adanya, lugas.

Mijin kawin dengan salah seorang pembatik ketika wahyu masuk sekolah. Menjelang kawin, Mijin baru disunatkan. Selama ini ternyata terlupakan. Tak ada yang memikirkan Mijin – tak ada juga ketika orangtuanya masih hidup. Sekali lagi Mijin menjadi bahan guyonan yang tak ada habisnya ketika disunat.

Lalu menyambung dengan komentar Mijin tentang sunatnya,

“Sakit sekali kalau bangun pagi. Pokoknya aku tak mau lagi sunat lagi seumur hidup.”

Ada potongan cerita menarik, ketika Ni baru pulang dari Semarang, lalu naik becak dari terminal menuju rumah. Berikut cuplikan dialognya,

“Ke Njeron Benteng, pak.”

Mangga…”

“Berapa, Pak?”

“Sudah berapa saja, mangga…”

“Lima ratus?”

Penarik becak itu tersenyum. Ramah dan tetap menghormat.

Ni tak ingin bertengkar dengan penarik becak nantinya. Makanya ia memastikan ongkosnya.

“Enam ratus… mangga…”

“Kalau mau lima ratus, kalau tidak ya sudah.”

Penarik becak itu tersenyum lagi.

“Kalau tega memberi lima ratus… ya mangga…”

Ni mati kutu.

Ketika Arswendo menyisipkan cerita tentang kuliner tradisional Jawa masa lampau karena kematian Bu Bei, ini seperti nostalgia, batin saya.

Mbok Tuwuh, yang seakan telah kering cairan tubuhnya, menangis ketika menyiapkan sega asahan, nasi putih biasa. Dengan lauk-pauk sambal goreng, bakmi goreng, bihun goreng, semur buncis, irisan telur dadar, perkedel, rempeyek, kerupuk – masing-masing dalam sudi, tempat yang dibuat dari daun pusang setengah lingkaran. Juga ketika menyiapkan sega wuduk, nasi putih gurih dengan lauk-pauk yang sama, ditambah dengan ingkung, ayam utuh yang dimasak santan.

Novel ini bercerita tentang Ni, seorang sarjana farmasi, calon pengantin, putri Ngabean, yang mencoba menekuni usaha batik orang tuanya. Dalam perjalanannya, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dia harus berhadapan dengan Pak Bei, bapaknya, bangsawan berhidung mancung yang perkasa; Bu Bei, bekas buruh batik yang menjadi ibunya; serta kakak-kakaknya yang sukses. Ni, yang bertahan dengan batik canting, harus berhadapan dengan batik printing. Setiap nyawa pola, hembusan nafas pada canting, terbanting begitu saja dengan pergeseran proses batik.

Pada akhirnya, memang harus ada kompromi, dengan Himawan, calon suaminya, dengan canting, dengan saudara-saudaranya, dengan buruh-buruhnya, juga  dengan skandal-skandal dalam keluarganya. Semua, diceritakan dengan cara Arswendo 🙂

Read Full Post »

Hanya Menggeser, Bukan Mengganti

Teknologi, pada dasarnya adalah pergeseran penggunaan. Teknologi email menggeser surat, teknologi ponsel menggeser telepon rumah, teknologi e-book menggeser kertas dan sebagainya. Dalam perkembangan selanjutnya, selain menggeser, juga mengganti, meskipun tidak sepenuhnya. Surat, misalnya, masih tetap digunakan, meskipun sudah ada email. Telepon rumah juga masih belum tergantikan sebagai syarat apply kartu kredit salah satu bank meskipun sudah ada ponsel. Dan toko buku Gramedia, tetap masih menjalankan bisnisnya dengan baik meskipun di internet bertebaran buku-buku elektronik. Itulah mengapa, kata menggeser lebih tepat dari pada mengganti.

Buku digital, e-book, dengan fungsi yang sama dengan buku, juga menggeser keberadaan buku biasa. Untuk materi-materi tertentu, saya lebih suka membaca ebook dari pada buku biasa. Tapi untuk materi yang lain, ternyata saya lebih memilih membeli untuk membaca, meskipun di komputer ada ebook dengan isi yang sama.

Pilihan buku pun berkembang, dari buku untuk dibaca di rumah, buku untuk dibaca saat perjalanan, buku untuk dibaca di kursi, bahkan buku untuk dibaca saat menjelang tidur di tempat tidur. Kenapa harus dibeda-bedakan? (more…)

Read Full Post »

Hiatus Sehiatus-hiatusnya

negeri 5 menaraTernyata, mencari bukunya Suparto Brata di Jakarta cukup susah. Setelah di Gramedia Matraman tidak menemukan, saya coba jalan2 di Kwitang, dan ternyata tidak menemukan juga. Hmmm… belum beruntung, mungkin nanti kalau pas di Jogja saja, saya cari lagi. Akhirnya saya kembali lagi ke Gramedia Matraman karena di Kwitang panas, takut dehidrasi hingga akhirnya mokel 😀 . Karena sudah ngeblank buku yang saya cari tidak ketemu, terpaksa saya alihkan ke buku yang lain. Itung-itung mumpung turun gunung. Setelah bolak-balik, akhirnya saya mengantongi tiga buku, Canting-nya Arswendo, Mahabarata-nya Rajagopalchari, dan Negeri 5 Menara-nya A. Fadli. Baru saja hendak ke Kasir, pucuk di cinta ulam pun tiba, saya melihat ada Para Priyayi-nya Umar Kayam. Hohoho… bahkan buku ini di Jogja sudah tidak ada, dan sekarang malah ketemu di Jakarta. Benar-benar beruntung.

Sayangnya, lagi-lagi, dan biasanya memang seperti ini, Canting yang sempat saya bawa sampai ke Nias, dibawa oleh teman ke Jogja. Mahabarata, malah ketinggalan di Jakarta sebelum berangkat ke Nias, dan sekarang dibawa oleh teman, jadi belum sempat dibaca. Sepulangnya dari Nias, mampir lagi di Jakarta, gantian Para Priyayi, yang ketinggalan, padahal baru baca separo. Nasib oh nasib. Tinggal Negeri 5 Menara yang saya bawa sampai sekarang.

Sebenarnya, buku ini belum masuk list to read, karena masih penasaran novel bahasa jawanya Suparto Brata. Hanya saja,beberapa hal dalam buku ini akhirnya bisa menarik hati saya. Yang pertama, display novel ini sangat mencolok di Gramedia (ini alasan nggak seh? 😛 ). Kedua, Shige dan Uda Vizon sudah meresensinya. Ndoro Kakung juga meresensi. Berarti kan memang novel bagus (karena banyak yang meresensi???). Mumpung belum ada label best seller, beli aja dulu, jadi nanti kalau sudah ada label best seller, bisa cerita, kalau saya sudah baca sebelum jadi best seller (lagi-lagi alasan yang nggak masuk akal :p ). Ketiga, itung-itung nostalgia masa lalu, karena saya pernah ngenger nyantri di pesantren yang diceritakan dalam buku ini. Jadilah aktifitas membaca novel ini, seperti yang dialami oleh Uda Vizon yang juga pernah di sana, nostalgia masa lalu, dan selalu diiringi dengan senyuman-senyuman kecil karena mengingat apa yang diceritakan dalam buku ini, pernah saya alami juga. Dan yang terakhir, setting daerah asal tokohnya berasal dari Bukittinggi. Rasanya nggak enak dengan bundo nakjadimade kalau nggak baca buku ini :p . Bukittinggi adalah salah satu tempat yang ingin saya kunjungi, entah kapan. Dalam bayangan saya, Bukittinggi, mirip dengan Jogja dan Aceh, tempat-tempat dengan identitas budaya yang sangat kental. Hmmm… Empat alasan yang entah masuk akal atau entah tidak :mrgreen:

Untuk resensinya, saya pikir tidak perlu saya tambahkan di sini, karena Shige sudah meresensi dengan bagus, juga resensi Uda Vizon dan resensi Ndoro Kakung. Intinya, buku yang inspiratif, mencerahkan, dan bagi saya pribadi, tentu saja, penuh dengan nostalgia masa lalu 🙂

Read Full Post »

arok dedesPramoedya selalu bercerita dengan luar biasa, lancar mengalir, dengan dialog-dialog yang mampu membangun suasana dan latar belakang. Juga dialog yang menguatkan karakter setiap tokoh di dalamnya. Dan buku ini, adalah permainan catur antara Tunggul Ametung, Arok, dan Empu Gandring. Itu yang saya tangkap setelah selesai membaca.

Bercerita tentang konspirasi cantik kaum brahmana dan sudra untuk menumbangkan kaum satria. Cerita diperkaya dengan kekuatan militer Empu Gandring dan Belakangka yang berusaha mengail di air keruh dan pengkhianatan-pengkhianatan yang ditimbulkan oleh ambisi pribadi.

Dalam buku ini Pram bercerita dengan bahan yang berbeda. Butuh adaptasi untuk memahami kandungan ajaran Hindu, Budha dan ajaran-ajaran yang berkembang pada tahun 1100 an saka (1200 an masehi) (sampai di sini saya harus mengaku kalah karena tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang bahan tesebut).

Selain bahan yang berbeda, cara Pram bertutur cerita di novel ini juga sedikit berbeda dengan novel-novel lain yang pernah saya baca. (more…)

Read Full Post »

Novel itu Menyandang Dosa

nDilalah, kepergian saya dari tanah jawa kali ini berbekal beberapa novel tebal (untuk ukuran teman saya hehehe). Ada karangan Pramoedya, Puzo dan Tohari. Sebisa mungkin saya biasakan, untuk menyertai perjalanan dengan sebuah buku, dan kebetulan kali ini adalah novel (yang dulu2 juga hehehe…).  Saya agak ngeh, ketika pada suatu akhir pekan, dan saya sedang menyelesaikan salah satu novel Pram, seorang teman menelpon, dan berbasa-basi dengan bertanya, sedang apa. Ya saya jawab, lagi baca novel. Novel apa? (more…)

Read Full Post »

Dengan berat hati, akhirnya saya posting juga tulisan tentang buku ini, dengan beberapa sensor tentunya hehehehe. Saya sendiri tidak tahu, kenapa buku ini terasa sangat personal sekali dengan saya. Saya sudah lama tahu buku ini, dan baru beberapa waktu yang lalu masuk dalam daftar belanja, itupun harus antri menunggu giliran, dibelakang Puzo, Pramoedya dan Mustofa Bisri (atau Bisri Mustofa, saya lupa :D). Setelah sekian lama, akhirnya tiba juga giliran Dukuh Paruk untuk dikunjungi. Meskipun saya pernah membaca “Belantik”, namun karya kali ini sepertinya berbeda. Saya seperti mengenal Ahmad Tohari yang lain, yang membongkar-bongkar emosi menjadi karakter. (more…)

Read Full Post »