Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Mas Ndoro’ Category

“Lho, lha koq nggak ada hujan, nggak ada petir, masih mongso ketigo, Mas Ndoro nonton pidio tari.”

Darmi muncul begitu saja, berdiri di samping saya ikut memperhatikan video Tari Pendet hasil download dari youtube.

“Memangnya kenapa? Nggak boleh?” Tanya saya, protes karena diprotes.

Tumben lho Mas Ndoro. Koq ndengaren. Biasanya juga nonton pilem inggris.”

Saya tersenyum, mengiyakan.

“Tari apa tho, itu, Mas Ndoro? Koq saya belum pernah lihat?”

Saya geser posisi laptop, supaya Darmi bisa melihat lebih jelas.

Saya perhatikan reaksi Darmi, wajahnya berubah menjadi serius, memperhatikan betul video Tari Pendet yang saya download dengan penuh perjuangan. Maklum, di Ngawi hanya tersedia koneksi GPRS.

“Darmi! Wajahmu itu lho, koq sampai curious begitu.”

“Heh? Nopo Mas Ndoro?” Masih tidak berpaling dari layar laptop.

Wah, rupanya benar-benar konsen batur saya ini, batin saya.

“Curious, curious.”

“Heh? Nopo?” Hanya itu, tidak paham, tidak memperhatikan apa yang saya katakan.

Masih serius, curious, full attention, khusyu dan sepertinya tidak terlalu konsen dengan pertanyaan-pertanyaan saya. Begitu khusyunya, sampai tidak menoleh barang sedetik pun dari laptop. Agak heran juga saya dengan perilakunya. Tidak biasanya Darmi sedemikian seriusnya dengan sesuatu. Bahkan meja yang sedianya hendak dibersihkan batal dilakukan. Kemoceng masih ditangannya terdiam, tanpa aktifitas, mengikuti ritme kekhusukan tuannya.

“Heh, kamu itu lho…”

Tidak tahan juga saya melihat perilaku Darmi, seperti orang kesambet. Saya rebut kemoceng dari tangannya. Masih belum bergeming, tidak ada reaksi. Walah…

“ Saya dulu pernah belajar tari, lho, Mas Ndoro.”

“Ah, mosok?”

“Wah, njenengan itu dibilangin koq ndak percaya.”

Masih belum menoleh. Masih menatap laptop. Khusyu.

“Enggih. Waktu SD, yang ngajari Bu Guru Lestari.”

Masih belum menoleh. Masih khusyu.

“Dulu kan ada pertunjukan sendra tari untuk Agustusan.“

“Pas perpisahan waktu lulus SD saya juga tampil ikut nari.”

“Dulu rombongan. Saya, Yem, Ningsih, Wagimi, Sri, terus… Darsih. Nggih, Darsih itu. Yang sekarang kerja di Malaysia. Yang sekarang punya sawah sebahu. Yang rumahnya magrong-magrong.”

“Koq ponakan saya yang SD itu ndak diajari nggih, Mas Ndoro?”

“Dulu, kalau hari sabtu sore, di rumahnya Pak No juga ada latihan gamelan. Lek Sri Lulut itu juga latihan nari.”

“Tapi dulu, waktu saya masih kecil. Waktu masih ada tanggapan kethoprak. Waktu masih ada yang nanggap tari pas ada yang mantenan.”

“Sekarang ndak lagi. Ndak laku, Mas Ndoro. Ndak ada yang nanggap.”

“Sekarang kalau perpisahan SD ndak ada tari-tarian lagi. Agustusan juga ndak ada tari-tarian lagi.”

“Sekarang orang mantu, ndak nanggap tari lagi.”

“Sekarang yang begitu-begitu sudah ndak laku, Mas Ndoro. Sudah ketinggalan jaman.”

Darmi masih belum menoleh. Sampai video tari pendet berdurasi delapan menit itu selesai. Lalu meneruskan bersih-bersih meja tanpa reaksi, tanpa perubahan di wajahnya. Tidak merasa perlu mengetahui bahwa tarian yang baru saja ditontonnya sedang memicu rasa nasionalisme, menimbulkan demo di mana-mana, protes, caci maki, pembakaran bendera Negara tetangga. Bahkan, para seniman merasa perlu untuk menyuarakan pentingnya proteksi terhadap kekayaan budaya bangsa. Bahkan saya perlu hiatus dari blog karena malu tidak tahu mau menulis apa, untuk kemudian searching berhari-hari, mencari-cari pengetahuan tentang Tari Pendet, download video, membaca artikel berulang-ulang, karena saya memang buta sama sekali. Kalau kemudian sampai sekarang saya masih belum bisa menghayati dan memahami maknanya, dan memberanikan diri menulis lagi, itu karena merasa harus ikut cawe-cawe, merasa ikut bertanggung jawab, meskipun masih belum paham juga maknanya.

Tiba-tiba Darmi diam selama beberapa detik, kemudian menoleh ke arah saya, bertanya,

“Itu tadi tarian yang diributkan di tipi-tipi itu, nggih, Mas Ndoro?”

Saya kaget, tidak mungkin menjawab selain, “Iya.”

“Lha, enggih. Koq bisa nggih, orang-orang Malaysia itu belajar nari. Terus, umpamanya Tari Jaipong, Tari Gambyong, Tari Srimpi, Tari Bambangan Cakil, atau tari-tari yang lain itu dipelajari orang-orang sana, terus ditampilkan di sana bagaimana? Jangan-jangan nanti di sana ada ronggeng juga, seperti cerita simbok pas jaman PKI dulu. Terus ada wayang orang juga. Terus ada wayang kulit juga. Terus ada kethoprak juga. Terus wayang golek juga. Lha kalau misalnya Tari Bedaya Pangkur, atau Tari Bedaya Ketawang itu ditampilkan di sana, apa ndak gulung koming, nangis nggero-nggero para kanjeng sinuhun di keraton itu?”

Itu kata Darmi, batur saya, yang dulu pernah belajar nari dengan Bu Guru Lestari, yang dulu dengan rombongannya pernah menari untuk pesta kelulusan SD, yang dulu pernah tampil menari waktu Agustusan, yang dulu sering menonton latihan tari di rumahnya Pak No, yang dulu menyimak bagaimana Lek Sri Lulut latihan rutin setiap sabtu untuk tanggapan pesta pernikahan atau kethoprak, yang dulu…

Ya, yang dulu, yang dulu sekali. Sekarang tidak lagi.

(Ditulis dalam rangka turut prihatin atas plagiasi budaya)

Advertisements

Read Full Post »

Kutiba

Baru saja saya keluar dari kamar, dan baju sholat sudah berganti dengan baju untuk harian.

Mas Ndoro, hari ini untuk buka puasa masak apa?” Tanya Darmi, sambil beres-beres meja.

“Lha memang kamu bisa masak apa? Paling-paling ya jangan (sayur, red) bening, ayam goreng, tempe goreng, telor dadar sama tahu goreng. Wis, yang biasa saja, nggak usah aneh-aneh.”

“Lhooo… Mas Ndoro koq bolehnya njenengan langsung pesimis gitu sama saya. Ini bulan puasa, bulan penuh hikmah, jadi harus istimewa untuk buka puasa.”

Saya geleng-geleng, bahkan doktrinasi agama pun sudah sedemikian merakyatnya, sampai-sampai batur saya, yang merangkap manager perurusan perumahtanggaan, mulai dari dapur, sampai menentukan warna korden jendela pun bisa mengatakan layaknya para penceramah/dai di TV. Bulan penuh hikmah. Ckckck… satu lagi bukti kehebatan media dalam pendidikan.

Yo wis, terserah hari ini kamu mau masak apa. Jangan lupa, sesuai dengan janji, ISTIMEWA, karena ini BULAN PENUH HIKMAH.” Saya ulang kata-katanya tentang kebaikan-kebaikan puasa, dengan penekanan yang saya berat-beratkan.

“Wah, lha rak begitu, Mas Ndoro.” Wajah lugu tur ndeso itu tiba-tiba menjadi sumringah.

Weits, saya langsung waspada, menerka-nerka apa kelanjutan di balik wajah sumringah itu. (more…)

Read Full Post »

“Lho? Sepuluh ribu? Mas Ndoro urunan sepuluh ribu?” Darmi kaget, sekaget-kagetnya, meskipun agak dibuat-buat.

Saya agak mengernyit, mbatin, perasaan sudah banyak urunan Agustusan sepuluh ribu. Koq?

“Koq bolehnya Mas Ndoro puuuelit, urunan Agustusan koq hanya sepuluh ribu.”

Darmi mengkiwir-kiwirkan uang sepuluh ribu yang diambilnya dari saya, dijepit antara ibu jari dan telunjuk, pas di ujungnya, pas di pojokan, lalu diangkat sedikit, pas dimuka saya, pas yang ada gambarnya Sultan Mahmud Badaruddin II.

“Lha memang berapa urunannya? Katanya sukarela?” Tanya saya, tidak paham.

“Lha enggih, suka rela nggih suka rela, tapi mbok jangan sepuluh ribu. Ini minyak goreng juga hanya dapat sekilo, Mas Ndoro. Koq buat urunan Agustusan. Byuuuuh…”

“Lha iyaa, JADINYA URUNANNYA BERAAPAAA?” Agak jengkel juga saya.

“S-U-K-A R-E-L-A. Suka rela itu nggih terserah, waton bukan sepuluh ribu. Agustusan lho ini, bukan arisan RT. Sepuluh ribu, gek dapat nopo niku? Agustusan lho, peringatan kemerdekaan, ngisi kemerdekaan. Lha koq hanya sepuluh ribu! Mas ndorooo… Mas Ndorooo… koq leh kebangeten njenengan itu.”

Ciloko, apalagi ngomongnya Mas Ndoro… Mas Ndoro… itu sambil mecucu, agak mengejek, dengan nada ngece kalau Ndoronya pelit. (more…)

Read Full Post »

Ada yang aneh beberapa hari terakhir ini. Tempe goreng yang dimasak Darmi lebih hitam agak kecoklatan, alias gosong. Tingkat kekerasannya beberapa puluh persen lebih besar dari pada biasanya. Saya sendiri tidak masalah dengan perubahan pola masak yang diakibatkan oleh pergeseran lama waktu memasak ini, terutama dengan tempe yang agak gosong itu tadi. Tempe, yang merupakan salah satu manifestasi kecanggihan olah rasa bangsa Indonesia, tetap akan enak, selama digoreng (entah gosong entah tidak). Termasuk jika digoreng agak-agak gosong hingga kulit pembungkus tempe yang, entah dari tepung terigu entah dari tepung gaplek, itu mencapai derajat kekerasan tertentu sehingga bisa memrotholkan gigi. Tetep saja enak.

Terlepas dari kekerasan tempe goreng agak gosong ala Darmi dalam beberapa hari terakhir ini, wedang kopi saya ikut-ikutan terimbas. Rasanya jadi agak-agak ambyar, dan tidak seperti wedang kopi, tapi seperti air yang bercampur kopi. Apa bedanya? (more…)

Read Full Post »

Sudah agak sore menjelang ashar, Darmi membawakan teh, sambil tangan kirinya mencet-mencet tombol HP.

Mas Ndoro, Ndoro Putri tadi telpon.”

“Ibu pesen apa?”

“Besok Mas Ndoro disuruh nganter Ndoro Putri dan Ndoro Kakung ke Kecamatan.”

Manasik, batin saya. Biasa, hari Sabtu Bapak dan Ibu manasik haji di kecamatan, dan hanya saya, meskipun bisa digolongan anak durhaka, adalah satu-satunya anak yang selalu disuruh untuk mengantar ke mana-mana. Manasik, pasar, arisan, nyumbang (hadir di resepsi pernikahan), ziarah dan sebagainya. Bapak sama Ibu sendiri baru dapat jatah haji tahun 2012, dan mulai sekarang sudah ikut manasik haji, hampir setiap bulan sekali. Dan tugas saya, menjemput, mengantar ke kecamatan, dan mengantarkan pulang lagi ke rumah kakak saya di Cepu, Blora. Itu berarti saya berangkat naik motor dari Ngawi ke Blora, bawa mobil dari Cepu ke Ngawi lagi, terus balik lagi ke Blora, lalu baliknya ke Ngawi lagi naik motor. Selalu melelahkan, dan selalu begitu setiap akhir bulan. Birrul walidain ternyata memang berat.

Darmi meletakkan teh tubruk pahit, dan lodong (toples) gula. Sak sruputan, dan saya berdiri meninggalkan laptop yang masih menyala menuju kandang. Nardi sedang sibuk dengan HPnya yang lebih mahal dari milik saya. Weh, saya geleng-geleng mengintip dari belakang, sedang cengengas-cengenges facebookan.
(more…)

Read Full Post »

Mas Ndoro, ada bom di Jakarta?”

Iyo, tho?”

Injih, di dua tempat. Hotelnya bule.”

Saya masih belum ngeh (lebih tepatnya tidak peduli) dengan berita dari Darmi yang sedang memberesi gelas bekas wedang teh saya tadi malam. Juga nggak niat-niat amat untuk nonton TV, malah memutuskan duduk seperti biasa di belakang.

Beberapa hari ini agak panas, dengan panas yang bener-bener panas. Ngawi di musim kemarau seperti secuil tanah di atas kawah condrodimuko. Panas dan kering. Bahkan, sapi-sapi di belakang yang notabene juga sapi bule (keturunan simental, limousin dan brahman), juga merasa ngos-ngosan dengan cuaca sepanas ini.

Selang beberapa waktu kemudian, Nardi datang, dan masih dengan topik yang sama, Bom.
(more…)

Read Full Post »