Feeds:
Posts
Comments

Teknologi, pada dasarnya adalah pergeseran penggunaan. Teknologi email menggeser surat, teknologi ponsel menggeser telepon rumah, teknologi e-book menggeser kertas dan sebagainya. Dalam perkembangan selanjutnya, selain menggeser, juga mengganti, meskipun tidak sepenuhnya. Surat, misalnya, masih tetap digunakan, meskipun sudah ada email. Telepon rumah juga masih belum tergantikan sebagai syarat apply kartu kredit salah satu bank meskipun sudah ada ponsel. Dan toko buku Gramedia, tetap masih menjalankan bisnisnya dengan baik meskipun di internet bertebaran buku-buku elektronik. Itulah mengapa, kata menggeser lebih tepat dari pada mengganti.

Buku digital, e-book, dengan fungsi yang sama dengan buku, juga menggeser keberadaan buku biasa. Untuk materi-materi tertentu, saya lebih suka membaca ebook dari pada buku biasa. Tapi untuk materi yang lain, ternyata saya lebih memilih membeli untuk membaca, meskipun di komputer ada ebook dengan isi yang sama.

Pilihan buku pun berkembang, dari buku untuk dibaca di rumah, buku untuk dibaca saat perjalanan, buku untuk dibaca di kursi, bahkan buku untuk dibaca saat menjelang tidur di tempat tidur. Kenapa harus dibeda-bedakan? Continue Reading »

Advertisements

Hiatus Sehiatus-hiatusnya

negeri 5 menaraTernyata, mencari bukunya Suparto Brata di Jakarta cukup susah. Setelah di Gramedia Matraman tidak menemukan, saya coba jalan2 di Kwitang, dan ternyata tidak menemukan juga. Hmmm… belum beruntung, mungkin nanti kalau pas di Jogja saja, saya cari lagi. Akhirnya saya kembali lagi ke Gramedia Matraman karena di Kwitang panas, takut dehidrasi hingga akhirnya mokel 😀 . Karena sudah ngeblank buku yang saya cari tidak ketemu, terpaksa saya alihkan ke buku yang lain. Itung-itung mumpung turun gunung. Setelah bolak-balik, akhirnya saya mengantongi tiga buku, Canting-nya Arswendo, Mahabarata-nya Rajagopalchari, dan Negeri 5 Menara-nya A. Fadli. Baru saja hendak ke Kasir, pucuk di cinta ulam pun tiba, saya melihat ada Para Priyayi-nya Umar Kayam. Hohoho… bahkan buku ini di Jogja sudah tidak ada, dan sekarang malah ketemu di Jakarta. Benar-benar beruntung.

Sayangnya, lagi-lagi, dan biasanya memang seperti ini, Canting yang sempat saya bawa sampai ke Nias, dibawa oleh teman ke Jogja. Mahabarata, malah ketinggalan di Jakarta sebelum berangkat ke Nias, dan sekarang dibawa oleh teman, jadi belum sempat dibaca. Sepulangnya dari Nias, mampir lagi di Jakarta, gantian Para Priyayi, yang ketinggalan, padahal baru baca separo. Nasib oh nasib. Tinggal Negeri 5 Menara yang saya bawa sampai sekarang.

Sebenarnya, buku ini belum masuk list to read, karena masih penasaran novel bahasa jawanya Suparto Brata. Hanya saja,beberapa hal dalam buku ini akhirnya bisa menarik hati saya. Yang pertama, display novel ini sangat mencolok di Gramedia (ini alasan nggak seh? 😛 ). Kedua, Shige dan Uda Vizon sudah meresensinya. Ndoro Kakung juga meresensi. Berarti kan memang novel bagus (karena banyak yang meresensi???). Mumpung belum ada label best seller, beli aja dulu, jadi nanti kalau sudah ada label best seller, bisa cerita, kalau saya sudah baca sebelum jadi best seller (lagi-lagi alasan yang nggak masuk akal :p ). Ketiga, itung-itung nostalgia masa lalu, karena saya pernah ngenger nyantri di pesantren yang diceritakan dalam buku ini. Jadilah aktifitas membaca novel ini, seperti yang dialami oleh Uda Vizon yang juga pernah di sana, nostalgia masa lalu, dan selalu diiringi dengan senyuman-senyuman kecil karena mengingat apa yang diceritakan dalam buku ini, pernah saya alami juga. Dan yang terakhir, setting daerah asal tokohnya berasal dari Bukittinggi. Rasanya nggak enak dengan bundo nakjadimade kalau nggak baca buku ini :p . Bukittinggi adalah salah satu tempat yang ingin saya kunjungi, entah kapan. Dalam bayangan saya, Bukittinggi, mirip dengan Jogja dan Aceh, tempat-tempat dengan identitas budaya yang sangat kental. Hmmm… Empat alasan yang entah masuk akal atau entah tidak :mrgreen:

Untuk resensinya, saya pikir tidak perlu saya tambahkan di sini, karena Shige sudah meresensi dengan bagus, juga resensi Uda Vizon dan resensi Ndoro Kakung. Intinya, buku yang inspiratif, mencerahkan, dan bagi saya pribadi, tentu saja, penuh dengan nostalgia masa lalu 🙂

Dulu Iya, Sekarang …

“Lho, lha koq nggak ada hujan, nggak ada petir, masih mongso ketigo, Mas Ndoro nonton pidio tari.”

Darmi muncul begitu saja, berdiri di samping saya ikut memperhatikan video Tari Pendet hasil download dari youtube.

“Memangnya kenapa? Nggak boleh?” Tanya saya, protes karena diprotes.

Tumben lho Mas Ndoro. Koq ndengaren. Biasanya juga nonton pilem inggris.”

Saya tersenyum, mengiyakan.

“Tari apa tho, itu, Mas Ndoro? Koq saya belum pernah lihat?”

Saya geser posisi laptop, supaya Darmi bisa melihat lebih jelas.

Saya perhatikan reaksi Darmi, wajahnya berubah menjadi serius, memperhatikan betul video Tari Pendet yang saya download dengan penuh perjuangan. Maklum, di Ngawi hanya tersedia koneksi GPRS.

“Darmi! Wajahmu itu lho, koq sampai curious begitu.”

“Heh? Nopo Mas Ndoro?” Masih tidak berpaling dari layar laptop.

Wah, rupanya benar-benar konsen batur saya ini, batin saya.

“Curious, curious.”

“Heh? Nopo?” Hanya itu, tidak paham, tidak memperhatikan apa yang saya katakan.

Masih serius, curious, full attention, khusyu dan sepertinya tidak terlalu konsen dengan pertanyaan-pertanyaan saya. Begitu khusyunya, sampai tidak menoleh barang sedetik pun dari laptop. Agak heran juga saya dengan perilakunya. Tidak biasanya Darmi sedemikian seriusnya dengan sesuatu. Bahkan meja yang sedianya hendak dibersihkan batal dilakukan. Kemoceng masih ditangannya terdiam, tanpa aktifitas, mengikuti ritme kekhusukan tuannya.

“Heh, kamu itu lho…”

Tidak tahan juga saya melihat perilaku Darmi, seperti orang kesambet. Saya rebut kemoceng dari tangannya. Masih belum bergeming, tidak ada reaksi. Walah…

“ Saya dulu pernah belajar tari, lho, Mas Ndoro.”

“Ah, mosok?”

“Wah, njenengan itu dibilangin koq ndak percaya.”

Masih belum menoleh. Masih menatap laptop. Khusyu.

“Enggih. Waktu SD, yang ngajari Bu Guru Lestari.”

Masih belum menoleh. Masih khusyu.

“Dulu kan ada pertunjukan sendra tari untuk Agustusan.“

“Pas perpisahan waktu lulus SD saya juga tampil ikut nari.”

“Dulu rombongan. Saya, Yem, Ningsih, Wagimi, Sri, terus… Darsih. Nggih, Darsih itu. Yang sekarang kerja di Malaysia. Yang sekarang punya sawah sebahu. Yang rumahnya magrong-magrong.”

“Koq ponakan saya yang SD itu ndak diajari nggih, Mas Ndoro?”

“Dulu, kalau hari sabtu sore, di rumahnya Pak No juga ada latihan gamelan. Lek Sri Lulut itu juga latihan nari.”

“Tapi dulu, waktu saya masih kecil. Waktu masih ada tanggapan kethoprak. Waktu masih ada yang nanggap tari pas ada yang mantenan.”

“Sekarang ndak lagi. Ndak laku, Mas Ndoro. Ndak ada yang nanggap.”

“Sekarang kalau perpisahan SD ndak ada tari-tarian lagi. Agustusan juga ndak ada tari-tarian lagi.”

“Sekarang orang mantu, ndak nanggap tari lagi.”

“Sekarang yang begitu-begitu sudah ndak laku, Mas Ndoro. Sudah ketinggalan jaman.”

Darmi masih belum menoleh. Sampai video tari pendet berdurasi delapan menit itu selesai. Lalu meneruskan bersih-bersih meja tanpa reaksi, tanpa perubahan di wajahnya. Tidak merasa perlu mengetahui bahwa tarian yang baru saja ditontonnya sedang memicu rasa nasionalisme, menimbulkan demo di mana-mana, protes, caci maki, pembakaran bendera Negara tetangga. Bahkan, para seniman merasa perlu untuk menyuarakan pentingnya proteksi terhadap kekayaan budaya bangsa. Bahkan saya perlu hiatus dari blog karena malu tidak tahu mau menulis apa, untuk kemudian searching berhari-hari, mencari-cari pengetahuan tentang Tari Pendet, download video, membaca artikel berulang-ulang, karena saya memang buta sama sekali. Kalau kemudian sampai sekarang saya masih belum bisa menghayati dan memahami maknanya, dan memberanikan diri menulis lagi, itu karena merasa harus ikut cawe-cawe, merasa ikut bertanggung jawab, meskipun masih belum paham juga maknanya.

Tiba-tiba Darmi diam selama beberapa detik, kemudian menoleh ke arah saya, bertanya,

“Itu tadi tarian yang diributkan di tipi-tipi itu, nggih, Mas Ndoro?”

Saya kaget, tidak mungkin menjawab selain, “Iya.”

“Lha, enggih. Koq bisa nggih, orang-orang Malaysia itu belajar nari. Terus, umpamanya Tari Jaipong, Tari Gambyong, Tari Srimpi, Tari Bambangan Cakil, atau tari-tari yang lain itu dipelajari orang-orang sana, terus ditampilkan di sana bagaimana? Jangan-jangan nanti di sana ada ronggeng juga, seperti cerita simbok pas jaman PKI dulu. Terus ada wayang orang juga. Terus ada wayang kulit juga. Terus ada kethoprak juga. Terus wayang golek juga. Lha kalau misalnya Tari Bedaya Pangkur, atau Tari Bedaya Ketawang itu ditampilkan di sana, apa ndak gulung koming, nangis nggero-nggero para kanjeng sinuhun di keraton itu?”

Itu kata Darmi, batur saya, yang dulu pernah belajar nari dengan Bu Guru Lestari, yang dulu dengan rombongannya pernah menari untuk pesta kelulusan SD, yang dulu pernah tampil menari waktu Agustusan, yang dulu sering menonton latihan tari di rumahnya Pak No, yang dulu menyimak bagaimana Lek Sri Lulut latihan rutin setiap sabtu untuk tanggapan pesta pernikahan atau kethoprak, yang dulu…

Ya, yang dulu, yang dulu sekali. Sekarang tidak lagi.

(Ditulis dalam rangka turut prihatin atas plagiasi budaya)

Kutiba

Baru saja saya keluar dari kamar, dan baju sholat sudah berganti dengan baju untuk harian.

Mas Ndoro, hari ini untuk buka puasa masak apa?” Tanya Darmi, sambil beres-beres meja.

“Lha memang kamu bisa masak apa? Paling-paling ya jangan (sayur, red) bening, ayam goreng, tempe goreng, telor dadar sama tahu goreng. Wis, yang biasa saja, nggak usah aneh-aneh.”

“Lhooo… Mas Ndoro koq bolehnya njenengan langsung pesimis gitu sama saya. Ini bulan puasa, bulan penuh hikmah, jadi harus istimewa untuk buka puasa.”

Saya geleng-geleng, bahkan doktrinasi agama pun sudah sedemikian merakyatnya, sampai-sampai batur saya, yang merangkap manager perurusan perumahtanggaan, mulai dari dapur, sampai menentukan warna korden jendela pun bisa mengatakan layaknya para penceramah/dai di TV. Bulan penuh hikmah. Ckckck… satu lagi bukti kehebatan media dalam pendidikan.

Yo wis, terserah hari ini kamu mau masak apa. Jangan lupa, sesuai dengan janji, ISTIMEWA, karena ini BULAN PENUH HIKMAH.” Saya ulang kata-katanya tentang kebaikan-kebaikan puasa, dengan penekanan yang saya berat-beratkan.

“Wah, lha rak begitu, Mas Ndoro.” Wajah lugu tur ndeso itu tiba-tiba menjadi sumringah.

Weits, saya langsung waspada, menerka-nerka apa kelanjutan di balik wajah sumringah itu. Continue Reading »

Password to Smile

Sore-sore, tiba-tiba Tediscript masuk ke kamar, tanpa ba bi bu, tanpa permisi, tanpa ngomong dulu sama yang punya, langsung buka laptop, tekan tombol power…

Diam sebentar, baru menoleh sama saya yang sedang urek-urekan menghitung DelengeRank.

“Den, paswordnya apa?” Akhirnya ngomong juga.

“Passwordnya kosong.”

Jeda sebentar…

“Nggak bisa, Den. Minta password.”

“Passwordnya kosong.” Kata saya meyakinkan.

“Minta password. Neh, lihat! Kan, minta password?”
Continue Reading »

Yes, Pak Yayat mau mempercayakan pada saya untuk melakukan migrasi blognya http://arkasala.com dari Joomla ke WordPress.org. Lumayan untuk malpraktek :mrgreen: . Yang diinginkan adalah, semua posting beserta dengan semua komentarnya, dengan model hirarkis persis seperti di blog lama yang menggunakan engine Joomla.

Langsung saya buat tool untuk migrasi, dengan harapan, tool ini bisa menjadi project berkelanjutan yang bisa dimanfaatkan oleh pengguna Joomla yang ingin melakukan migrasi ke WordPress.org.

Untung tak dapat diraih , malang tak dapat ditolak. Ternyata penggunaan editor Tiny MCE yang digunakan oleh Joomla menimbulkan masalah. Ada kemungkinan Pak Yayat menggunakan MS Word untuk menulis artikel, baru kemudian dikopas ke editor Tiny MCE di dashboard Joomla. Dan hasilnya, tag (potongan kode pembangun tampilan) yang aneh dan tidak saya pahami. Tool yang saya buat pun senasib dengan tuannya dan gagal melakukan migrasi. Nasib oh nasib, padahal sudah modal Kratingdaeng Redbull kalengan.

Mutung dengan tool buatan sendiri, saya putuskan untuk menggunakan Joomla2Wordpress buatan Azeem Khan, dan ternyata, viola… TETEP NGGAK BISA!!! Optimis. Berarti bukan tool buatan saya yang buruk, dan akhirnya project tetap saya lanjutkan.

Setelah otak-atik code, akhirnya jadilah tool yang menghasilkan kerusakan paling minimal pada format content. Hasil migrasi ditampilkan di browser, yang secara otomatis mengeliminasi beberapa tag endline yang merusak syntax SQL. Langsung dikopas, dan… YES, BERHASIL!!!

Kesimpulannya, Continue Reading »

panggil aku kartini sajaHabis gelap terbitlah terang

Habis badai datanglah damai

Habis juang sampailah menang

Habis duka tibalah suka

Sebuah kebetulan yang baik, ketika sebelum bepergian kemarin saya membeli buku ini. Kebetulan sekarang adalah bulan kemerdekaan dan kebetulan saya selesai membacanya ketika malam kemerdekaan. Memang tidak bersinggungan secara langsung dengan waktu dan moment kemerdekaan, tapi membaca Kartini dari sisi apa yang diperjuangkannya, apa yang dilakukkannya lewat surat-surat yang dikirimkannya kepada sahabat-sahabat penanya.

Berikut ini nukilan dari sampul belakang buku ini :

Biografi ini mengajak mengingat Kartini, tapi bukan dari sudut pandang domenstik rumah seperti dia adalah gadis pingtan lalu dinikahkan secara paksa lalu melahirkan lalu mati. Coba singkirkan kenangan itu dan alihkan pikiran pada bagaimana cara Kartini melawan itu semua, melawan kesepian karena pingitan, melawan arus kekuasaan besar penjajahan dari dinding tebal kotak penjara Kabupaten yang menyekapnya bertahun-tahun.

Penggalan-penggalan tentang Kartini, pernah disinggung dalam beberapa novel Pram yang lain, terutama di Tetralogi Pulau Buru, Gadis Pantai dan Nyai Ontosoroh. Berikut ini nukilan dari Ruth Indah Rahayu, peneliti dari Yayasan Kalyana Mitra: Continue Reading »