Critique (1)

“Lagakmu, Duuul, Dul!”

“Lagak? Lagak gimana?”

“Lha iya, ngguaya, suuuok. Mbok yang biasa saja. “

“Sebentar, sebentar. Ini ada apa? Koq tiba-tiba saya dituduh suuuok, ngguuuaya. Apa selama ini saya kurang biasa?”

“Lho? Jadi selama ini kamu nggak merasa, kalau kamu itu sok?”

Masih bingung.

“Sek to Jo… kamu itu kenapa to? Dosa saya itu apa?”

“Blogmu itu lho.”

Blog??? Continue reading

Canting Saja Tidak Cukup

canting arswendo bukuNdalem Ngabean Sestrokusuman tampak sunyi, sewaktu matahari menumpahkan sisa-sisa suryanya yang kuning sore lewat daun-daun pohon sawo kecik. Ndalem Ngabean Sestrokusuman, sebutan untuk rumah luas yang dibentengi tembok tebal kediaman Raden Ngabehi Sestrokusuman, tidak biasanya sepi seperti ini. Tidak pernah halaman samping pendapa yang begitu luas sunyi dari anak-anak kecil bermain atau bunyi sapu lidi membersihkan. Tak pernah bagian gandhok, disamping ruang utama yang membujur ke belakang jauh sekali, begitu kosong dari tarikan nafas. Di gandhok itu, biasanya ada 112 buruh batik, sepuluh di antaranya tukang cap, yang bekerja sejak pagi hari sampai sore hari. Diseling istirahat yang tak lama, lalu dilanjutkan sekitar separonya yang bekerja lembur.

Novel ini menjawa dengan sendirinya, tanpa harus memaksakan settingnya. Pohon sawo kecik, Ndalem Ngabean Sestrokusuman, gandhok, pendapa, batik. Baru paragraph pertama, dan Arswendo sudah memberi pesan, bahwa dia akan bercerita sesuatu tentang sebuah keluarga dengan tradisi Jawa yang kuat. Mengalir begitu saja, apa adanya.

Perhatikan cuplikan tentang pasar Klewer berikut ini, tempat Bu Bei berjualan. Continue reading

Hanya Menggeser, Bukan Mengganti

Teknologi, pada dasarnya adalah pergeseran penggunaan. Teknologi email menggeser surat, teknologi ponsel menggeser telepon rumah, teknologi e-book menggeser kertas dan sebagainya. Dalam perkembangan selanjutnya, selain menggeser, juga mengganti, meskipun tidak sepenuhnya. Surat, misalnya, masih tetap digunakan, meskipun sudah ada email. Telepon rumah juga masih belum tergantikan sebagai syarat apply kartu kredit salah satu bank meskipun sudah ada ponsel. Dan toko buku Gramedia, tetap masih menjalankan bisnisnya dengan baik meskipun di internet bertebaran buku-buku elektronik. Itulah mengapa, kata menggeser lebih tepat dari pada mengganti.

Buku digital, e-book, dengan fungsi yang sama dengan buku, juga menggeser keberadaan buku biasa. Untuk materi-materi tertentu, saya lebih suka membaca ebook dari pada buku biasa. Tapi untuk materi yang lain, ternyata saya lebih memilih membeli untuk membaca, meskipun di komputer ada ebook dengan isi yang sama.

Pilihan buku pun berkembang, dari buku untuk dibaca di rumah, buku untuk dibaca saat perjalanan, buku untuk dibaca di kursi, bahkan buku untuk dibaca saat menjelang tidur di tempat tidur. Kenapa harus dibeda-bedakan? Continue reading

Hiatus Sehiatus-hiatusnya

negeri 5 menaraTernyata, mencari bukunya Suparto Brata di Jakarta cukup susah. Setelah di Gramedia Matraman tidak menemukan, saya coba jalan2 di Kwitang, dan ternyata tidak menemukan juga. Hmmm… belum beruntung, mungkin nanti kalau pas di Jogja saja, saya cari lagi. Akhirnya saya kembali lagi ke Gramedia Matraman karena di Kwitang panas, takut dehidrasi hingga akhirnya mokel :D . Karena sudah ngeblank buku yang saya cari tidak ketemu, terpaksa saya alihkan ke buku yang lain. Itung-itung mumpung turun gunung. Setelah bolak-balik, akhirnya saya mengantongi tiga buku, Canting-nya Arswendo, Mahabarata-nya Rajagopalchari, dan Negeri 5 Menara-nya A. Fadli. Baru saja hendak ke Kasir, pucuk di cinta ulam pun tiba, saya melihat ada Para Priyayi-nya Umar Kayam. Hohoho… bahkan buku ini di Jogja sudah tidak ada, dan sekarang malah ketemu di Jakarta. Benar-benar beruntung.

Sayangnya, lagi-lagi, dan biasanya memang seperti ini, Canting yang sempat saya bawa sampai ke Nias, dibawa oleh teman ke Jogja. Mahabarata, malah ketinggalan di Jakarta sebelum berangkat ke Nias, dan sekarang dibawa oleh teman, jadi belum sempat dibaca. Sepulangnya dari Nias, mampir lagi di Jakarta, gantian Para Priyayi, yang ketinggalan, padahal baru baca separo. Nasib oh nasib. Tinggal Negeri 5 Menara yang saya bawa sampai sekarang. Continue reading

Dulu Iya, Sekarang …

“Lho, lha koq nggak ada hujan, nggak ada petir, masih mongso ketigo, Mas Ndoro nonton pidio tari.”

Darmi muncul begitu saja, berdiri di samping saya ikut memperhatikan video Tari Pendet hasil download dari youtube.

“Memangnya kenapa? Nggak boleh?” Tanya saya, protes karena diprotes.

Tumben lho Mas Ndoro. Koq ndengaren. Biasanya juga nonton pilem inggris.”

Saya tersenyum, mengiyakan.

“Tari apa tho, itu, Mas Ndoro? Koq saya belum pernah lihat?”

Saya geser posisi laptop, supaya Darmi bisa melihat lebih jelas.

Saya perhatikan reaksi Darmi, wajahnya berubah menjadi serius, memperhatikan betul video Tari Pendet yang saya download dengan penuh perjuangan. Maklum, di Ngawi hanya tersedia koneksi GPRS.

“Darmi! Wajahmu itu lho, koq sampai curious begitu.” Continue reading

Kutiba

Baru saja saya keluar dari kamar, dan baju sholat sudah berganti dengan baju untuk harian.

Mas Ndoro, hari ini untuk buka puasa masak apa?” Tanya Darmi, sambil beres-beres meja.

“Lha memang kamu bisa masak apa? Paling-paling ya jangan (sayur, red) bening, ayam goreng, tempe goreng, telor dadar sama tahu goreng. Wis, yang biasa saja, nggak usah aneh-aneh.”

“Lhooo… Mas Ndoro koq bolehnya njenengan langsung pesimis gitu sama saya. Ini bulan puasa, bulan penuh hikmah, jadi harus istimewa untuk buka puasa.”

Saya geleng-geleng, bahkan doktrinasi agama pun sudah sedemikian merakyatnya, sampai-sampai batur saya, yang merangkap manager perurusan perumahtanggaan, mulai dari dapur, sampai menentukan warna korden jendela pun bisa mengatakan layaknya para penceramah/dai di TV. Bulan penuh hikmah. Ckckck… satu lagi bukti kehebatan media dalam pendidikan.

Yo wis, terserah hari ini kamu mau masak apa. Jangan lupa, sesuai dengan janji, ISTIMEWA, karena ini BULAN PENUH HIKMAH.” Saya ulang kata-katanya tentang kebaikan-kebaikan puasa, dengan penekanan yang saya berat-beratkan.

“Wah, lha rak begitu, Mas Ndoro.” Wajah lugu tur ndeso itu tiba-tiba menjadi sumringah.

Weits, saya langsung waspada, menerka-nerka apa kelanjutan di balik wajah sumringah itu. Continue reading

Password to Smile

Sore-sore, tiba-tiba Tediscript masuk ke kamar, tanpa ba bi bu, tanpa permisi, tanpa ngomong dulu sama yang punya, langsung buka laptop, tekan tombol power…

Diam sebentar, baru menoleh sama saya yang sedang urek-urekan menghitung DelengeRank.

“Den, paswordnya apa?” Akhirnya ngomong juga.

“Passwordnya kosong.”

Jeda sebentar…

“Nggak bisa, Den. Minta password.”

“Passwordnya kosong.” Kata saya meyakinkan.

“Minta password. Neh, lihat! Kan, minta password?”
Continue reading

Migrasi Blog Joomla ke WordPress, Open Kitchen Migrasi arkasala.com Part I

Yes, Pak Yayat mau mempercayakan pada saya untuk melakukan migrasi blognya http://arkasala.com dari Joomla ke WordPress.org. Lumayan untuk malpraktek :mrgreen: . Yang diinginkan adalah, semua posting beserta dengan semua komentarnya, dengan model hirarkis persis seperti di blog lama yang menggunakan engine Joomla.

Langsung saya buat tool untuk migrasi, dengan harapan, tool ini bisa menjadi project berkelanjutan yang bisa dimanfaatkan oleh pengguna Joomla yang ingin melakukan migrasi ke WordPress.org.

Untung tak dapat diraih , malang tak dapat ditolak. Ternyata penggunaan editor Tiny MCE yang digunakan oleh Joomla menimbulkan masalah. Ada kemungkinan Pak Yayat menggunakan MS Word untuk menulis artikel, baru kemudian dikopas ke editor Tiny MCE di dashboard Joomla. Dan hasilnya, tag (potongan kode pembangun tampilan) yang aneh dan tidak saya pahami. Tool yang saya buat pun senasib dengan tuannya dan gagal melakukan migrasi. Nasib oh nasib, padahal sudah modal Kratingdaeng Redbull kalengan.

Mutung dengan tool buatan sendiri, saya putuskan untuk menggunakan Joomla2WordPress buatan Azeem Khan, dan ternyata, viola… TETEP NGGAK BISA!!! Optimis. Berarti bukan tool buatan saya yang buruk, dan akhirnya project tetap saya lanjutkan.

Setelah otak-atik code, akhirnya jadilah tool yang menghasilkan kerusakan paling minimal pada format content. Hasil migrasi ditampilkan di browser, yang secara otomatis mengeliminasi beberapa tag endline yang merusak syntax SQL. Langsung dikopas, dan… YES, BERHASIL!!!

Kesimpulannya, Continue reading

Jiwa yang Merdeka, Panggil Aku Kartini Saja

panggil aku kartini sajaHabis gelap terbitlah terang

Habis badai datanglah damai

Habis juang sampailah menang

Habis duka tibalah suka

Sebuah kebetulan yang baik, ketika sebelum bepergian kemarin saya membeli buku ini. Kebetulan sekarang adalah bulan kemerdekaan dan kebetulan saya selesai membacanya ketika malam kemerdekaan. Memang tidak bersinggungan secara langsung dengan waktu dan moment kemerdekaan, tapi membaca Kartini dari sisi apa yang diperjuangkannya, apa yang dilakukkannya lewat surat-surat yang dikirimkannya kepada sahabat-sahabat penanya.

Berikut ini nukilan dari sampul belakang buku ini :

Biografi ini mengajak mengingat Kartini, tapi bukan dari sudut pandang domenstik rumah seperti dia adalah gadis pingtan lalu dinikahkan secara paksa lalu melahirkan lalu mati. Coba singkirkan kenangan itu dan alihkan pikiran pada bagaimana cara Kartini melawan itu semua, melawan kesepian karena pingitan, melawan arus kekuasaan besar penjajahan dari dinding tebal kotak penjara Kabupaten yang menyekapnya bertahun-tahun.

Penggalan-penggalan tentang Kartini, pernah disinggung dalam beberapa novel Pram yang lain, terutama di Tetralogi Pulau Buru, Gadis Pantai dan Nyai Ontosoroh. Berikut ini nukilan dari Ruth Indah Rahayu, peneliti dari Yayasan Kalyana Mitra: Continue reading

PROGRAMMER DAWET AYU

Ah, satu lagi saudara kita datang di dunia blog di bulan kemerdekaan ini, DW Garage, Garasi DW, Dwining Wahyudi, juga senior, juga suhu (saya manggilnya suhu) yang sudah mengajari banyak hal. Tukang ketik (programmer) PHP, dengan sambilan jualan dawet ayu (mbatin, ah, kurang harmonis sebenarnya programmer sambilan jualan dawet ayu, kalo tumpah kan klomoh-klomoh laptopnya :mrgreen: )

Selamat datang suhu, welcome, sugeng rawuh, semoga kita bisa meninggalkan jejak yang baik untuk dikenang, dan selamat menulis :)